Friday, May 12, 2006

Yaa Bunayya...

Berhubung saya menikah dengan suami yang lain kebangsaan dan saya pun tidak paham bahasanya, kami lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Awal-awal mempunyai anak, saya lebih banyak membahasakan dengan bahasa Inggris tetapi setelah bergaul dengan sesama Ibu-Ibu yang menikah lain bangsa, ternyata lebih baik saya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anak. Mengapa? Karena pada saatnya nanti ketika anak-anak menginjak usia sekolah, mereka akan dengan cepat menguasai bahasa Inggris. Apalagi didukung oleh adanya TV yang notabene Inggris abis. Bisa-bisa anak-anak sama sekali tidak kenal dengan bahasa Indonesia. Yang biasa dikenalkan sedari kecil aja bisa lupa/pasif atau malah tidak bisa! Saya pun menyarankan suami untuk berkomunikasi menggunakan bahasanya dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Tetapi suami saya nimbrung sedikit saja. Dia lebih banyak berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Mungkin karena dia gampang nyerah ketika anak-anak terlebih si sulung tidak mampu me-reply apa yang suami saya maksudkan. Perkembangan bahasa anak-anak (terutama yang saya sorot saat ini adalah si sulung karena yang nomor dua masih usia 18 bulan) memang agak terlambat. Bisa jadi karena kami menggunakan multi language di rumah. Menurut beberapa referensi bacaan dan beberapa konsultan, hal ini termasuk hal yang lumrah terjadi. Meskipun perkembangan bahasanya sedikit terlambat, dalam artian sering ngoceh dalam bahasanya sendiri tetapi sebenarnya dia paham dengan apa yang saya bicarakan. Yang suka bikin saya sedih adalah ketika ia hendak mengutarakan keinginannya tetapi saya yang tidak paham dengan bahasa sederhananya tersebut padahal anak saya sudah berusaha untuk menjelaskan beberapa kali... *sigh* Alhamdulillaah sekarang perkembangan bahasanya cukup pesat. Bahkan sangat pesat. Dia makin aktif bertanya ini-itu. Dia pun pandai berhitung hingga hitungan 29. Alfabet juga lancar tetapi sayangnya huruf hijaiyyah dia belum terlalu kenal. Waktu saya kasih huruf "Alif dengan fathah" meaning "A" dia protes, katanya itu "T". Saya kasih tau kalau ini huruf hijaiyyah, bacanya "A" bukan "T" tapi dia bilang: "NO, this is T." *sigh lagi* Tapi kalau saya nyanyikan nasyid Suara Persaudaraan tentang A Ba Ta Tsa, dia paham. Nha lho! Yang unik lagi, anak saya tidak cadel huruf "R" seperti anak-anak pada umumnya. Tapi ada huruf-huruf tertentu yang suka kebolak-balik. Contohnya: "Ayo, masuk!" Dia akan menirukan kata tersebut menjadi "Maksun." Ada lagi, seperti malam tadi. Sudah waktunya tidur tapi dia bilang mau makan roti. Yaa sudah, saya ngalah dan saya bikinkan roti pakai Blue Band bertaburan mesis warna-warni. Padahal dinnernya Maghrib tadi. Ketika ada beberapa butir coklat mesis yang berceceran di piring, anak saya komentar: "Hmm.. black. Yummy." Saya pun menjawab: "Itu bukan black. Itu namanya mesis." Dia pun menirukan: "Hm.. mesen." *Gedubrakk* Bawaan anak memang lain-lain ya...

2 Comments:

At 10:20 pm , Anonymous Anonymous said...

setubuhhhh eit setujuuuuhhhh...bener tuh bagusnya pake bhs ortu even saya yakin yg nyanthol bhs ibu (berdasar bukti dan fenomena yg tjd sama temen yg nkh beda negara). bhs ingris or bhs lingkungan bisa anak2 dpt dr luar.btw, si Aqil (4th) ajah blm ada se-th pake inggris...bhs indo nya dah kacau. One day saya minta tolong ambilin gunting dia jawab "wht is 'gunting', Mi(Ummi)?" (gubrakss donk gue :P)

 
At 12:10 am , Blogger Mother of Abdullaah said...

Hehe! Yaa jelas bhs Ibu donk yang lebih nyantol khan anak-anak lebih banyak ketemu ama Ibunya daripada sang Ayah. Lagian Ibu khan madrasah pertama buah hati kita, ya gak ya gak? :)

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home